Showing posts with label esai islam. Show all posts
Showing posts with label esai islam. Show all posts

Tuesday, 16 June 2015

, ,

Yang Seperti Mimpi Tapi Bukan Mimpi Adalah Kematian


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).


Kematian itu seperti mimpi, tak jauh dan tak terduga. Kita yang hidup bisa merasakan itu. Ketika pada suatu hari, kita mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri kawan, saudara, atau bahkan keluarga dekat kita meninggal. Mereka meninggal dan meninggalkan perasaan tak percaya di hati kita. Kita bisa bayangkan sendiri, sebelum mereka meninggal, kita melihat mereka menghirup udara dengan santai atau kita masih mendengar mereka menjalani hidup normal seperti biasa dan di waktu yang tak disadari akhirnya kita lihat atau dengar mereka tinggal jasad. Bergeming. Kaku. Dingin. Tak bernafas. Diam. Terbaring. Mata terpejam. Dan itulah yang tak jauh sekaligus tak terduga, seperti mimpi. Mereka meninggal.

Kita tak percaya. Orang yang kemarin sore masih tergelak bersama kita, kini hanya seonggok jasad kaku. Atau orang yang kemarin malam terbaring di kasur rumah sakit dan berangsur-angsur sembuh, tapi esok pagi hanya menyisakan kesunyian. Tak ada nafas. Meninggal. Atau orang yang di pagi hari kita lihat ia sehat wal afiat namun sorenya di hari yang sama, orang itu malah sudah dishalatkan. 

Kematian itu seperti bunga tidur. Seperti mimpi yang sering kita abaikan. Tak disadari bahkan kita sering lupa, tapi tak jauh. Dengan kata lain ia dekat. Seperti mimpi. Dengan merebahkan tubuh, terlelap, tak ingat, dan kita akan berangsur-angsur menyaksikan dunia lain: mimpi. Demikianlah prosesnya. Ia bersama kita yang hidup. Yang masih merasakan udara segar di pagi hari. Ia memiliki jadwal tersendiri di keseharian kita. 

Di sisi yang lain, mimpi juga tak terduga. Tak terprediksi karena terjadi begitu saja. Tanpa skenario yang memimpin jalannya cerita. Kita bisa bayangkan itu. Di detik tertentu, kita bisa melakukan sesuatu di suatu tempat dan di detik berikutnya kita bisa melakukan sesuatu yang lain di tempat yang lain. Demikianlah komposisi mimpi kita yang sering membuat kita tak percaya.

Karena itu kita menganggapnya tak masuk akal dan kita mengabaikannya. Karena dalam mimpi kita masih bisa bangun. Kita masih punya dunia nyata yang kita jalani setiap hari. Kita masih bisa bernafas lega karena hal-hal dalam mimpi tak benar-benar terjadi. Kita masih bisa melanjutkan hidup dan merasakan kebahagiaan yang nyata. Dan akhirnya kita merasa tak perlu memikirkan hal-hal yang tak jauh dan tak terduga itu. Karena mimpi sering membuat kita tak percaya. 

Itu pula yang terjadi ketika kematian terjadi. Kita melihat orang-orang yang kita kenal atau orang-orang terdekat kita hidup, berinteraksi dengan kita, mengobrol, tergelak, bersedih dengan kita dan tiba-tiba orang itu jadi seonggok tubuh yang diam. Bergeming di pembaringannya. Dimandikan oleh beberapa orang. Dipakaikan baju sederhana. Dishalatkan puluhan atau ratusan orang. Diangkat orang-orang dengan bergantian atau dibawa mobil ambulans. Diantar ke sebuah tanah lapang. Digalikan sebuah lubang di tanah. Diturunkan ke lubang itu. Diletakkan di lubang itu. Ditata sedemikian rupa. Hingga akhirnya lubang itu ditutup dengan tanah dan orang yang kita kenal atau keluarga dekat itu tetap dilubang itu, dikubur dengan tanah pasir, lempung, dan cadas. Teruruk semuanya hingga membentuk gundukan dan orang yang kita kenal atau keluarga dekat yang biasanya berinteraksi dengan kita, mengobrol, tergelak, atau bersedih bersama kita itu tetap dilubang itu. Terkubur dan hilang jadi tanah. Karena itu kita tak mudah percaya. Peristiwa itu seperti mimpi.

Tapi kematian bukan mimpi. Mimpi bisa membuat kita tak percaya tapi kita masih bisa bangun dan menjalani hidup lagi. Sementara kematian hanya bisa membuat kita tak percaya dan tak percaya dan tak percaya. Karena kematian tak jauh dan tak terduga. Ia bisa datang kapan dan di mana saja. Ia bisa datang sebagai sakit yang tak kunjung sembuh. Ia bisa datang sebagai kecelakaan kapal laut, persawat terbang yang hilang kendali, mobil atau motor di jalanan yang bertabrakan. Atau bahkan ia bisa datang ketika kita sedang sehat, ketika semangat hidup sedang menyala. 

Di samping itu, mimpi tak butuh bekal yang rumit. Hanya sebuah kantuk dan sedikit usaha untuk merebahkan tubuh. Terlelap dan mimpi pun datang. Sementara kematian, seperti yang kita tahu, bukan soal gampang. Karena ia tak jauh, tak terduga, dan tak bangun, ia butuh bekal yang tak remeh. Ia butuh persiapan agar kehidupan setelahnya jadi lebih mudah.

Kita pasti masih ingat firman Allah dan pesan Rasulullah ini:

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 10-11).

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa': 78).

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya': 34).

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).

“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Jika kita telah melihat kawan, kenalan, saudara, atau keluarga dekat kita mati, kita pasti tak lupa bahwa giliran kita akan tiba. Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang menyesal di akhir tapi tetap datang terlambat.

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari salah seorang keluarga dekat yang beberapa waktu yang lalu meninggal. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan kita semua. 

Referensi:
Rumaysho.com

Sunday, 31 May 2015

, , , , ,

10 Rahasia Perbedaan Suami dengan Pacar


Kamu wanita? Kamu muslimah? Atau kamu bukan muslimah tapi ingin jadi muslimah? Kamu ahkwat? Kamu perempuan? Kamu siswi? Kamu mahasiswi? Siapapun kamu (karena lelaki juga boleh membaca artikel ini) perlu mengetahui rahasia ini. 

Kamu punya pacar? Atau sudah bersuami? Atau kamu masih jomblo? Apapun statusmu di dunia ini, kamu berhak tahu rahasia ini. 

Kamu cinta mati dengan pacarmu? Kamu cinta banget sama suamimu? Atau kamu masih mencintai kejombloanmu? Seberapa besar pun cintamu dengan statusmu, kamu harus tetap sempatkan beberapa menit membaca artikel ini. 

Yakin kamu akan tetap mempertahankan pacarmu setelah mengetahui rahasia ini? Atau kamu akan semakin yakin untuk terus mempertahankan suamimu setelah membaca artikel ini? Atau kamu malah semakin yakin bertahan dengan kejombloanmu adalah jalan takdirmu yang terbaik saat ini? Apapun reaksimu selanjutnya, jangan pernah lewatkan satu kata pun dari artikel ini. 

Kamu akan membaca 10 rahasia perbedaan suami dengan pacar. 

Siapkan dulu cemilan dan muniman kesukaanmu dan jangan lupa baca basmalah. 

Siapkan juga pikiran yang tenang, lepaskan segala beban, lepaskan perasaan yang membebanimu. Fokuskan pikiranmu pada satu hal, bahwa apa yang akan saya baca adalah sesuatu yang akan mengubah saya atau memperkuat saya atau menenangkan saya.  

Bersiaplah dengan 10 rahasia ini.

Rahasia pertama

  • Suami halal
  • Pacar haram (Kecuali jika kamu tidak percaya dengan halal-haram, hal ini tidak berlaku padamu. Islam bukan? Mikir tingkat tinggi.)

Rahasia kedua

  • Suami akan menyempurnakan separuh agamamu.
  • Pacar akan menghancurkan agamamu. (Butuh bukti? Lha itu kamu masih pacaran!)

Rahasia ketiga

  • Suami bisa membawamu ke surga.
  • Pacar bisa membawamu ke mana?
         a. Neraka
         b. Neraka
         c. Neraka
         d. Semua jawaban benar
(Beri tanda silang (x) pada jawaban yang dianggap benar, jika masih ada jawaban lain silakan ditambahkan)


Rahasia keempat

  • Suami punya surat yang sah dari KUA.
  • Pacar hanya bisa membawa surat yang kalimatnya belepotan atau sms-sms gombal. (Tapi anehnya sudah bisa menganggapmu sebagai istri, hadehhh!).

Rahasia kelima


  • Suami bisa membuatmu mendapat pahala.
  • Pacar bisa membuatmu mendapat petaka dan dosa. (Jika masih enggak percaya, berarti.... KE-BA-NGE-TAN) 

Rahasia keenam


  • Suami benar-benar mencintaimu, dibuktikan dengan menikahimu.
  • Pacar benar-benar menikmatimu tanpa perlu menikahimu. (Yang ini mungkin kamu belum sepenuhnya percaya, lha wong sudah sama-sama suka! Jadinya ya kamu sama dia kepayang, serasa terbang ke langit ketujuh, entah mau ngapain. Dunia serasa milik berdua, entah dunia yang mana? Dunia lain atau lain dunia.)

Rahasia ketujuh


  • Suami bisa dengan penuh cinta membelikanmu rumah.
  • Pacar jangankan rumah, penghasilan pun belum tentu ada. (Lha kalau tak ada penghasilan, tak ada rumah, kenapa masih dilanjutin? Di situlah kadang logika menangis.)

Rahasia kedelapan

  • Suami akan terus berusaha menafkahimu.
  • Pacar belum akan berpikir sejauh itu, malah bisa tega menjualmu. Gak percaya? Coba baca berita!

Rahasia kesembilan


  • Suami bisa akrab dengan orang tuamu.
  • Pacar belum tentu berani bertemu bapakmu. Kecuali jika orang tuamu sendiri yang menyuruhmu pacaran. Pasti semuanya akan terlihat biasa-biasa saja. Tapi ingatlah kemuliaan wanita hanya akan terjaga ketika menikah, bukan pacaran.

Rahasia kesepuluh


  • Suami akan membuat hidupmu semakin berkah.
  • Pacar akan membuat hidupmu semakin tak jelas. (Bayangin, dianggap pasangan tapi belum kawin, dianggap kenalan tapi kok ngangenin. Ribet! Mending ajakin nikah aja!)

Demikianlah 10 rahasia perbedaan suami dengan pacar. Jika kamu merasa seperti tertimpa durian runtuh setelah membaca artikel ini atau kamu malah semakin tersedu-sedan atau mengharu biru seperti baru membaca kisah ratapan anak tiri atau kamu merasa belum tersentuh hati, berarti kamu harus membaca firman Allah dan hadis Rasulullah ini: 

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Al-Isra’: 32).

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui (An-Nur:32). 

“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu (memberi nafkah lahir dan batin), maka menikahlah.” (HR. Al-Bukhari)

10 rahasia ini hanya untuk pengingat semata, jika ada kata-kata yang membuat anda merenung, memang disengaja. Jika ada dalil-dalil yang membuat anda bingung, silakan ditanyakan pada ahlinya, ustad dan semisalnya. Saya hanya memberi wacana, tak ada niatan untuk memaksa. Hidup-hidup anda. Tapi ingat, Islam hanya satu, kebenaran telah dijelaskan, kesalahan telah disebutkan, tinggal sekarang keputusan anda. Maunya apa? 
,

Mari Merenung dan Belajar

    

Ini tentang Islam, tentang realita, tentang masa depan yang perlu kita pikirkan dari sekarang. Tentang hal-hal yang jauh ke depan. Tentang berbagai kejadian di masa mendatang. Tentang kepastian. Tentang hari esok setelah kematian. Tentang nasib kita di Hari Pembalasan. 
    Apa yang telah kita persiapkan. Apa yang telah kita persembahkan. Apa yang telah kita lakukan. Apa yang membuat kita masih tenang-tenang. Apa yang membuat kita masih tetap menjadi orang lain. Sosok yang masih asing dengan ajaran Islam. Sosok yang masih tak mau tahu dengan hukum-hukum Islam.
    Mari merenungkan realita ini.
    Jika perzinaan telah menjadi kejadian lumrah, apa yang bakal terjadi selanjutnya? Agaknya kini kita perlu merenung dan menghitung. Karena itu kita perlu lebih dekat dengan realita dan peka terhadap apa yang tengah terjadi di lingkungan sekitar kita. Mari merapat, bediskusi di satu forum, dengan satu akun: muslim. Dengan begini mungkin kita semua akan setuju dengan sebuah dasar bahwa perzinaan merupakan perbuatan dosa yang dilarang Islam.
   Kita perlu merenung bahwa realita ingin mata kita terbuka lebih lebar dan berpikir lebih keras, bahwa kita saat ini tengah berada di era hiperseksualitas. Di mana kita baca atau tonton di berbagai media mengabarkan ini: razia Indekos ditemukan banyak pasangan bukan suami-isteri; pasangan mesum di kamar mandi mushola mau diarak keliling kampung; lagi asyik mesum di pantai, UN usai, siswi 'ngamar' dengan pacar; dll. 
   Mungkin kita bisa simpulkan dari berbagai berita itu bahwa perzinaan di era kita saat ini bisa dengan sangat mudah dilakukan. Bagaimana bisa? Kita bisa lihat itu secara holistik. Sebab-sebab terbesar adalah karena kita hidup di dunia yang dipenuhi kecanggihan teknologi, sehingga setiap adegan perzinaan bisa dilakukan dengan mudah dimulai dengan sms, media sosial, pornografi di internet, tayangan televisi, iklan vulgar dll. Sementara di saat yang bersamaan, kita sebagai manusia yang hidup di dunia semacam ini, malah berangsur-angsur lupa dengan orientasi sebenarnya dalam menjalani hidup. Kita sedikit demi sedikit kehilangan alasan mengapa kita hidup di dunia karena kita selalu fokus pada pencapaian dunia yakni sebuah laku untuk terus mendapatkan perhiasan dunia. 
    Karena itu mungkin kita sudah lupa kapan terakhir kali orang tua kita memberi nasihat kepada kita bahwa alasan kita hidup di dunia adalah karena Allah ingin kita hanya menyembah-Nya atau dengan bahasa sederhana Allah ingin kita mempersiapkan segalanya sebelum kita betemu Allah. Dan salah satu bentuk penyembahan dan persiapan itu adalah dengan tidak mendekati zina. Seberapa sering seruan itu kita dengar dari orang tua kita? Atau seberapa sering seruan itu terwujut dalam praktek nyata? Misalkan orang tua kita yang selalu berusaha menyekolahkan kita di sekolah-sekolah yang bernafaskan Islam, sekolah-sekolah yang tak pernah membiarkan anak didiknya diracuni oleh virus pacaran dengan memisahkan lelaki dan perempuan dalam hal ruang dan suasana. Mungkin hal itu sangat jarang kita dapati. Karena kita sudah sangat terbiasa dengan ketakbenaran hingga menganggap itu benar. 
    Kita sudah sangat terbiasa dengan tampilan Islam yang sering ditayangkan di acara televisi atau media lain bahwa Islam adalah hanya sekadar shalat, puasa, zakat, haji, menyemarakkan hari-hari besar dengan tergelak dan gembira, tanpa perlu mempelajari tata cara yang sebenarnya. Agaknya kita sudah terlalu asyik dengan Islam semacam ini. Kita sudah tak memiliki keinginan lagi untuk mempelajari Islam. Dan karena itu kita akan menganggap aneh orang Islam yang melarang pacaran karena itu termasuk mendekati zina. Kita akan menganggap mereka adalah aliran ortodoks yang beragama dengan keras tanpa memperbolehkan orang lain bahagia. Dan itulah akibat dari kealpaan kita terhadap alasan kita hidup di dunia.  
    Karena pada awalnya, inilah salah satu sebab adegan perzinaan menjadi lumrah. Setelah kita tak lagi memahami alasan kita hidup di dunia, kita akan melakukan apapun yang bisa menyenangkan hati. Kita akan selalu berorientasi pada pemuasan hawa nafsu. Kita akan semakin terpukau dengan keburukan dan antipati pada kebaikan. Kita akan semakin mencintai kebebasan. Kita akan semakin gembira dengan perkumpulan lelaki perempuan. Kita akan semakin syahdu dengan drama percintaan tanpa sebuah penikahan. Kita akan semakin berhasrat untuk menikmati perzinaan. Dan kita akan menganggap ini adalah kebenaran, karena kita tidak pernah mau mempelajari kesalahan. 
   Dan karena itu kita perlu menghitung. Apa yang perlu kita kurangi untuk mereduksi realita buruk ini? Kita perlu mengurangi ketakbenaran. Kita perlu berpikir lebih tenang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dunia. Kita perlu membuat kebijakan baru dalam hidup. Kita perlu menentukan sekarang juga. Kita perlu mempelajari Islam yang sesungguhnya. Kita perlu memahami alasan kita hidup: untuk menyembah Allah atau untuk mempersiapkan segalanya sebelum bertemu Allah karena semua dari kita akan mati. Dan apakah ketika kita bertemu Allah kita akan mengatakan “Ya Allah ini persembahanku (perzinaan) untuk-Mu”? Nauzdubillah min zdalik.
    Setelah kita mulai menyadari orientasi sebenarnya dalam menjalani hidup, mari kita mulai memperbaiki hal-hal yang tak benar dalam hidup. Mari kita mulai membuat tatanan baru. Mari kita mulai mengatur sedikit demi sedikit cara dan gaya hidup kita sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Memang tak pernah mudah untuk memulai, tapi jika jalan kebenaran hanya bisa ditempuh dengan memulai, apakah kita masih akan berdiam diri?
    Kita harus mulai belajar. Islam bukan sekadar agama nenek moyang, yang membuat kita berislam tanpa perlu mempelajari. Kita harus mulai belajar. Belajar! Belajar! Dan belajar!
    Gunakan kesempatan hidup sebaik-baiknya!
    Sibukkan diri dengan kawan-kawan yang baik, mencari ilmu, beramal!
    Berikut adalah sejumlah laman Islami yang bisa terus ditengok.

Search Engine Islami : Yufid.com
Download Video Ceramah : Yufid.tv
Download Audio Ceramah : Kajian.net
Download Umum (software, ebook, dll) : Islam-Download.net
Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com
Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com
Artikel Islami : Muslim.or.id
Artikel Muslimah : Muslimah.or.id
Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat: Rumaysho.com
,

Rohingya


Bintang-bintang bisa bertebaran, tapi begitu jauh dan tak mungkin mengerti kesengsaraan manusia. Rohingya, peristiwa yang merenggutkan ratusan nyawa, ingin lebih dekat ke depan mata kita agar kita lebih mudah menyadari, bahwa mereka ingin pengakuan sebagai manusia yang tinggal di bumi di bawah langit. Mereka ingin kita lebih peka terhadap kekejaman dan arti sebuah persaudaraan. 

Rohingya ingin mata kita tak perlu memandang terlalu jauh, agar kita bisa melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi sebanarnya. Mereka tak ingin kita hanya sekadar menonton tayangan di media. Mereka ingin kita melihat dengan mata telanjang sejumlah kepala yang tergores tak ringan, sejumlah anak-anak yang menangis kelaparan, dan perempuan-perempuan yang trauma. 

Mereka telah mendekat. Di ujung Indonesia. Dengan perahu sekadarnya. Mereka berlabuh. 

Pada mulanya adalah kebencian yang tak tertahan dari pemerintah Myanmar. Ketika majelis PBB digelar, pemerintah Myanmar tak pernah mengakui Rohingya sebagai anak kadungnya. Rohingya adalah anak haram karena mereka berbeda. Mereka bukan bagian dari Burma. Karena itu serdadu militer pun dikerahkan. Para tokoh dan petinggi Agama Budha dijadikan alat untuk memusuhi Rohingya. Rohingya ditekan, dibentak, dan dilumpukan. Kewarganegaraan ditiadakan. Hak asasi diinjak-injak. Mereka ditolak untuk hidup. Pendidikan tak didapat. Pernikahan tak diakui negara. 

Kekejaman pun berlanjut. Rumah-rumah dibakar. Tempat-tempat ibadah dihancurkan. Para wanita diperkosa. Anak-anak dibunuh. Dan masih banyak lagi kekejian yang terjadi. 

Rohingya akhirnya terasingkan. Jadi anak buangan. Ditekan terus hingga akhirnya mereka memutuskan untuk keluar. Mereka sudah terusir. Terakhir kali mereka hanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada tempat kelahirannya yang sudah tak menawarkan kedamaian. Rohingya, yang kini konon dikenal sebagai Bengali. Laut jadi jalan mereka menuju bumi yang lain. Bumi yang mungkin masih menawarkan belas kasihan. Entah di mana. Dengan sebuah perahu seadanya, yang hanya berpenumpang 50 kepala, dipaksa mengangkut ratusan manusia. Mengapung puluhan hari di perairan lepas. Perbekalan yang tak mungkin cukup. Akhirnya beratus tumbang di tengah segara. Hingga akhirnya nelayan kita temukan mereka. Kemudian mereka berlabuh di Kota Kuala Langsa, Aceh Timur, Indonesia. 

Dan kita semakin sering membaca ini: Rohingya Myanmar yang terdampar.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Jawabannya di sini: Bikshu Ekstremis berkata,”Kami terus membiarkan mereka (Muslim Myanmar) menjalankan perintah agamanya. Tetapi ketika iblis muslim ini memegang kendali atas kami, mereka tidak akan membiarkan kami menjalankan agama yang kami anut.” (dikutip dari the national)

Dengan kata lain, ini soal keyakinan. Dasar perbedaan itu berasal dari agama. Mereka tak mau menerima perbedaan agama. Dan agaknya mereka berpikir, seakan berhak menentukan nasib orang-orang muslim Rohingya dengan membuangnya. Mereka ingin berpikir secara lebih runcing bahwa kebenaran mutlak milik mereka. Mereka telah kepayang dan mungkin mabuk oleh kesesatan. Hingga tanpa perlu menengok lagi nurani, menindas masyarakat muslim Rohingya dengan keji. 

Tapi kita sadar, Allah berfirman:  

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Maidah: 82)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118) 

Semua telah dijelaskan. Dalam Al-Qur’an Allah mengabarkan orang-orang musrik akan lebih hebat memusuhi Islam. Kita seharusnya tak heran. Mereka memang demikian. 

Apa yang harus kita lakukan?

Kita sebagai sesama muslim. Mari bersatu menjadi umat yang utuh. Saling membantu. Saling merasakan kesedihan. Saling merasakan kesakitan. Sebagaimana nabi kita mengajarkan.

“Kasih sayang dan rasa cinta sesama muslim ibarat satu jasad. Jika ada salah satu anggota badan sakit, maka anggota tubuh yang lain tidak bisa tidur dan ikut demam.” (HR. Ahmad dan Muslim)

“Siapa saja yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesusahannya di Hari Kiamat kelak.” (HR. Muslim) 

Apapun bentuk bantuan yang kita berikan, sangat berarti buat mereka.

Salam ukhwah